Artikel

Latest Post

OPREC Pengurus Buletin Al-Mufid 2016

Written By kemaba upi on Minggu, 24 April 2016 | 08.33

JOB DESCRIPTION BIDANG TIM BULETIN AL-MUFID


1. Staf Redaksi
a. Sebagai penanggung jawab rubrik atau tulisan yang ditetapkan dalam rapat redaksi.
b. Menyiapkan outline atas rubrik/tulisan yang menjadi tanggung jawabnya.
c. Bersama reporter atau sendiri melakukan pengumpulan bahan di lapangan sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan

2. Editor
a. Memeriksa,mengedit, dan menyempurnakan naskah sesuai dengan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar
b. Memeriksa naskah kata per kata, penggunaan titik, koma, tanda seru, dan titik dua
c. Mengedit penggunaan logika bahasa, dan alur naskah.

3. Reporter
a. Mencari berita (news- Hunting)
b. melakukan reportase (wawancara dan sebagainya ke lapangan).

4. Desain dan Layout
a. Merancang desain buletin
b. Mendesain dan melayout halaman buletin dengan menarik

5. Distributor
a. Bertanggung jawab atas pencetakan buletin.
b. Mendistribusikan buletin sesuai dengan arahan pimpinan

DOWNLOAD
https://drive.google.com/open?id=0BzgLV7N4OEfuSGMwd25weHlGZE0

Buat kamu-kamu yag tertarik, langusng aja daftarin diri kamu dengan ketik :
DAFTAR_Nama Lengkap_NIM_Pilihan
kirim ke 089501281249

Rangkaian DA 2

Written By kemaba upi on Senin, 12 Oktober 2015 | 13.07



بسم الله الرحمن الرحيم

Sebuah organisasi tentu harus ada regenerasi. Salah satu caranya yakni dengan alur kaderisasi yang di Keluarga Mahasiswa Bahasa Arab UPI disebut dengan Daurah Asaasiyyah (DA). DA ini terbagi menjadi 3 tahap, yaitu DA 1, DA 2 dan DA 3. DA 1 ini sudah dilaksanakan pada tanggal 19 September 2015. Lalu tanggal 10-11 Oktober 2015 sudah dilaksanakan DA 2. Pelaksanaan ini tentu berbeda dengan DA 1 yang hanya dilakukan 1 hari saja.
Dalam DA 2 ini, mahasiswa baru (maru) Pend. Bahasa Arab UPI 2015 melaksanakan sidang untuk memilih ketua angkatan mereka. Tentu saja, sebelum persidangan dimulai para maru ini dibekali dulu dengan hal-hal yang terkait erta dengan persidangan. Materinya yaitu mengenai event organizer yang disampaikan oleh kang Trias Abdullah (Ketua LBM UPI 2014 & pimipinan redaksi Buletin Al-Mufiid 2013) dan juga materi mengenai persidangan yang disampaikan oleh kang Fikri Lukmanul Hakim (Ketua MPM KEMABA 2014). Pematerian ini dilaksanakan di Auditorium B FPBS UPI tanggal 10 Oktober 2015. Sebelum pematerian, para maru ini berdiskusi dulu mengenai cerdas dan militant dalam berorganisasi sesuai dengan tema DA tahun ini. Kegiatan pada ari Sabtu ini diakhiri dengan pemilihan presidium siding. Presidium siding ini adalah maru angkatan 2015: Reza sebagai presidium 1, Astri sebagai presidium 2 dan Nadya Syifa sebagai presidium 3.
Tanggal 11 Oktober 2015, maru ini harus berkumpul 05.30 dan tentunya panitia harus berkumpul lebih pagi untuk melanjutkan persidangan. (-red). Sidang ini berlangsung cukup lama dan baru setelah magrib persidangan masuk pada bagian pencalonan ketua angkatan 2015 (yeee, horeee –red). Akhirya terpilihlah 3 calon ketua angkatan Pend. B. Arab UPI 2015 yaitu Ridwan, Ilyas dan Akmal. Setelah proses musyawarah, akhirnya Ridwan ditetapkan sebagai keua angkatan P. B. Arab UPI 2015. Selamat untuk M. Ridwanullah Fauzi dan semoga amanah.:)
Ini adalah rangkaian DA 2 yang sudah dilalui. Tentu ada banyak hal yang mungkin akan kita rindu suatu saat nanti. (SF)



Lebih Dekat dengan Rais Qism

Written By kemaba upi on Jumat, 18 September 2015 | 12.57




“Kayu besar di tengah padang, tempat bernang kepanasan, tempat berlindung kehujanan.”
Ibarat bahwa seorang pemimpin adalah yang menjadi penaung dan pelindung bagi yang dipimpinnya. Suka maupun duka akan terasa begitu berarti dengan adanya suatu kepemimpinan yang baik. Begitu halnya dengan kita.
Pendidikan Bahasa Arab memiliki sosok pemimpin. Bapak Dr. Yayan Nurbayan, M. Ag. Kelahiran Majalengka, 29 Agustus 1966.
Delapan tahun lamanya beliau menduduki bangku pendidikan di kota Majalengka. Mulai dari Sekolah Dasar, SMP juga SMA adalah sejaah di mana ilmu-ilmu itu beliau dapatkan di kota asal. Sosok beliau yang bersahabat ini, sejak kecil sangat senang sekali berpetualang ke alam bebas dan berolahraga sepak bola. Saat itu pula beliau berkeinginan untuk menjadi seorang pemain sepak bola. Tak hanya itu, setelah masuk SMP, beliau mulai menyenangi membaca buku. Buku yang beliau senangi bukanlah buku kegemaran anak seusianya semacam komik atau novel, tapi beliau sangat suka membaca buku filsafat dan pengetahuan umum. Beliau sering menjdai juara umum dalam bidang kesenangannya yaitu bahasa Arab dan matematika. Pantas saja, bapak yang senang membaca dan belajar bahasa Arab ini mendapatkan inspirasi untuk melanjutkan studinya di bidang bahasa Arab. Luar biasa sekali ya Sobat, patut kita contoh.
Tahun 1985, beliau diterima di IKIP Bandung (sekarang UPI). Minat dan prestasinya yang tinggi pada bidang bahasa, menjadikan beliau seorang mahasiswa IKIP Bandung Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.
Di Kota Bandung, beliau menetap di daerah KPAD Gegerkalong dekat pesantren Daarut Tauhiid. Sifatnya yang rajin dan serius menuntut ilmu, membuatnya berhasil lulus di IKIP Bandung selama 4 tahun. Tepatnya pada tahun 1989 beliau melaksanakan wisuda dan tahun itu pula beliau diangkat menjadi dosen.
“Bapak senang membaca, dan buku adalah teman bapak. Sekolah bapak saat itu ikhwan semua, sehingga bapak canggung jika bertemu dan berkomunikasi dengan anak perempuan. Saat masuk UPI, mulai sering berkomunikasi dengan anak perempuan dan bisa dipertemukan dengan seseorang tepatnya di Masjid Al-Furqan. Pertemuan tersebut adalah hal yang paling berkesan bagi bapak, karena perempuan tersebut adalah yang kini menjadi istri bapak,” tuturnya.
Dibalik kesuksesan ayahanda kita ini, orang tua adalah motivasi terbesar. Membanggakan keduanya adalah cita-cita yang tinggi. “Sebagai mahasiswa harus selalu semangat, harus mempunyai target dan niatkan lillah. Manfaatkan waktu untuk belajar, juga berorganisasi. Namun harus tetap ingat bahwa tugas utama kita adalah belajar.” Pesan indah ini menutup perkenalan kita dengan beliau.
“Rajinlah membaca, senangilah membaca, membaca adalah kunci kesuksesan.”
Semoga kita mampu mencontoh perjalanan hidup beliau meraih kesuksesan. (RS-NY)

Buletin Al-Mufid KEMABA Edisi 3

AL-QUR’AN, NERACA KEHIDUPANMU!

Written By kemaba upi on Senin, 14 September 2015 | 18.40




 

 Sumber Gambar: mirajnews.com
 
Karya Ummu Mush’ab 
(Selly Lintang Cahya - Pengurus UKM BAQI UPI)


Pernahkah terbetik dalam hati kita untuk mencari tahu apa kebahagiaan hakiki yang bisa kita rasakan? Atau pernahkan jiwa kita terusik dan bertanya pada diri sendiri bagaimana cara mengetahui tujuan hidup kita ini? Atau, kita malah tidak pernah memikirkannya sama sekali apalagi merenungkannya? Baik, kalau memang ternyata jawabannya adalah pertanyaan retorik yang ketiga, berarti bisa jadi kita termasuk orang-orang yang hanya mengikuti perkembangan zaman yang serba egosentris dan penuh dengan hedonisme. Namun, jika kita (minimal) pernah mencari tahu tentang tujuan hidup dan hakikat kebahagiaan, semoga kita termasuk orang-orang yang Allah beri taufik dan hidayah-Nya.

Pada perkembangan zaman seperti sekarang ini, gaya pemikiran semakin berkecambah. Sebagian orang mulai bingung mencari arah tujuan hidup dan tidak tahu lagi apa hakikat kebahagiaan. Tidak lagi bisa menimbang mana yang baik mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Semuanya menjadi samar. Sehingga hal ini menyebabkan kebobrokan akhlak manusia. Padahal, akhlak adalah salah satu unsur terpenting dalam membentuk umat yang kokoh. Seperti apa yang disampaikan Syaikh Salim ‘Ied al-Hilali, “Akhlak mulia merupakan salah satu unsur agar umat tetap kuat dan jaya, karena ia adalah landasan bagi tegaknya perintah-perintah Allah dalam jiwa manusia. Jika jiwa ini ditundukkan pada akhlak yang mulia dan perilaku yang lurus, maka tidak diragukan lagi ia akan senang untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah dan menetapi jalan-Nya. Akhlak mulia merupakan tulang punggung syariat dan inti agama, yang dengannya Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, juga penyeru ke (jalan) agama Allah dengan izin-Ny, dan sebagai cahaya yang menerangi. Oleh karena itu, akhlak mulia haruslah direalisasikan dalam diri setiap mukmin, sehingga ia akan beruntung dan dapat menegakkan perintah Allah.” [1]

Lalu bagaimana cara kita mengetahui tujuan hidup dan kebahagiaan hakiki?

Pembaca, sebelum kita sama-sama mendedahkan bagaimana caranya kita mengetahui apa tujuan dan kebahagiaan hakiki tersebut, saya berikan analogi terlebih dahulu. Seperti halnya kita ingin mengetahui sebuah tempat yang belum kita ketahui sebelumnya, kira-kira apa yang kita perlukan? Ya, semua menjawab bahwa kita butuh peta. Kita butuh petunjuk jalan yang bisa memberikan gambaran secara jelas kemana kita harus berjalan. Atau kita akan bertanya kepada orang yang paham betul dengan tempat tersebut. Begitupun dengan yang sedang kita bahas sekarang, untuk mengetahui bagaimana caranya agar kita mengetahui tujuan hidup dan kebahagiaan yang hakiki, maka kita butuh petunjuk. Dan petunjuk itu adalah Al-Qur’an.

Hampir semua umat manusia yang beriman telah sepakat bahwa Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Bahkan manusia paling bejat dan banyak melakukan dosa pun akan mengatakan hal yang sama selama mereka masih beriman. Namun yang menjadi sebuah keganjalan adalah kemunafikan hati dan keegoisan diri yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an. Berapa banyak manusia yang mengabaikan Al-Quran. Mereka mengaku beriman, tapi hari-harinya dilalui tanpa satu huruf Al-Qur’an pun terucap dari lisannya. Kalaupun sempat membacanya, itu hanya sampai pada kerongkongannya saja. Seperti apa yang dikatakan dalam firman Allah Ta’ala pada surat Al-A’raf ayat 179.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”[2]

Na’udzubillah, semoga kita tidak termasuk orang-orang dalam ayat tersebut. Mereka yang diberi hati, mata, dan telinga, akan tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat-Nya, Allah memberikan balasan dengan seburuk-buruknya tempat, yaitu neraka Jahannam. Maka dari itu, agar kita mengetahui tujuan hidup dan merasakan kebahagiaan hakiki, sepatutnya kita berusaha untuk mempelajari Al-Qur’an dengan cara membacanya secara tartil, menghafalnya, mentadabburinya, serta mengamalkan isi kandungannya. Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata, “Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat ada di balik keimanan kepada Allah, serta merenungkan kitab-Nya dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya.”[3]

Coba kita garis bawahi perkataan Syaikh Muhammad pada kalimat merenungkan kitab-Nya. Wahai pembaca, merenungkan Al-Qur’an atau mentadabburinya merupakan obat yang mujarab untuk menambah keimanan dalam diri kita. Seorang hamba dapat mengambil pelajaran yang sangat banyak dari merenungi Kitabullah. Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Dan barangsiapa merenungi kalam-Nya, niscaya ia akan mengenal Rabb Azza wa Jalla, mengetahui besarnya kerajaan dan kekuasaan-Nya, mengetahui besarnya karunia yang diberikan kepada orang-orang yang beriman, dan mengetahui ibadah yang diwajibkan kepadanya. Sehingga ia konsekwen dengan kewajiban dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh kekasih-Nya Yang Maha Mulia. Dia akan mencintai segala hal yang dicintai oleh-Nya. Barangsiapa memiliki sifat seperti itu ketika membaca Al-Qur’an dan ketika mendengarkannya dari orang lain, maka Al-Qur’an akan menjadi obat sehingga ia akan merasa kaya walaupun ia tidak memiliki harta. Ia akan merasa mulia walaupun tidak memiliki keluarga. Ia akan merasa betah dengan segala hal yang dirasakan takut oleh orang lain. Pertanyaan yang ada dibenaknya ketika membaca satu surat di dalam Al-Qur’an adalah, “Kapankah aku bisa mengambil nasihat dari apa yang aku baca?” Bukan “Kapankah aku bisa menyelesaikannya?” aku bertekad untuk bisa memahami firman Allah dan mengambil pelajaran darinya;karena sesungguhnya membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan dengan kelalaian. Hanya Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan untuk semua itu.”[4]

Dari pernyataan tersebut, jelaslah bahwa Al-Qur’an merupakan panduan paling penting bagi umat manusia. Allah Azza wa Jalla menurunkan Al-Qur’an untuk menjelaskan kepada manusia tentang segala sesuatu dari penciptaanya, menjelaskan apa saja yang bermanfaat dan membahayakan, serta menjelaskan apa yang harus dikerjakan dan apa yang harus dijauhi. Dari Al-Qur’an pulalah kita akan mengetahui tujuan hidup kita dan merasakan kebahagiaan hakiki.

Semua ini menjadi berkorelasi dengan akhlak mulia yang tumbuh dalam jiwa manusia yang mau mempelajari Al-Qur’an. Karena Allah telah membuat berbagai perumpaan dalam Al-Qur’an tentang Tarhib (ancaman bagi pelaku perbuatan buruk) dan Targhib (motivasi bagi pelaku perbuatan baik), agar setiap manusia mau mengambil pelajaran dan bersemangat untuk kembali kepada akhlak mulia dan menjalankan kehidupan dengan menegakkan syi’ar-syi’ar islam. Allah berfirman:

“...Dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian ancaman, agar mereka bertakwa...” (QS. Thaahaa: 113).[5]

Dengan Al-Qur’an, manusia akan merasakan lezatnya beribadah kepada Sang Pencipta, berseminya keimanan dalam dada, dan sudah barang tentu bahwa ini merupakan tujuan hidup dan kebahagiaan yang paling hakiki bagi manusia. Sebaliknya, apabila manusia meninggalkannya (Al-Qur’an), maka kebingungan dan kesengsaraanlah yang akan didapatinya, baik di dunia maupun diakhirat.

Referensi:
[1]   Beruntunglah Orang yang Khusyu’, karya Salim bin ‘Ied al-Hilali.
[2]   Lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz 9.
[3]   Neraca Kehidupan, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.  
[4] Akhlaaq Hamalatil Qur’aan, karya Al-Ajurri dalam Asbaabu Zayadatil Iimaan wa Nuqshaanihi, karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
[5]   Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16.



 
 

 



Profil UKM BAQI (Belajar Al-Qur’an Intensif )
Universitas Pendidikan Indonesia

BAQI, atau yang dikenal dengan UKM BAQI UPI adalah sebuah kegiatan mahasiswa yang bergerak dibidang keal-qur’anan. BAQI memiliki visi memberantas buta huruf Al-Qur’an di kampus UPI Bumi Siliwangi. Salah satu kegiatan BAQI adalah mengajarkan Al-Qur’an kepada mahasiswa baru pengontrak Matakuliah Pendidikan Agama Islam yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Pengajaran ini dilakukan setelah pengetesan baca Al-Qur’an yang diadakan oleh BAQI, dimana hasil yang diperoleh dari kegiatan pengetesan tersebut akan diserahkan kepada dosen pengampu Matakuliah Pendidikan Agama Islam.